Berebut Trotoar di Kota Bandung

Pikiran Rakyat Online

Kapan terakhir kali menggunakan trotoar di Kota Bandung? Pertanyaan sederhana ini ditanggapi beragam oleh masyarakat.

“Sudah lama sekali tidak jalan kaki. Jalan kaki sekarang panas, mending naik motor saja. Lebih cepat sampai,” kata Aldi (17), mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Bandung.

“Saya sering jalan di trotoar, tapi malah capek. Naik turun, naik turun. Belum lagi banyak pedagang kaki lima, tiang listrik, pohon. Akhirnya ya kita juga yang mengalah,” kata Rahmat (18), mahasiswa di salah satu PTN di Kota Bandung.

“Memang ada trotoar yang enak dibuat jalan kaki di Bandung? Perasaan banyaknya yang lewat malah sepeda motor? Kalau jalan di trotoar jangan-jangan malah ditabrak sepeda motor. Sudah seringlah rebutan trotoar sama sepeda motor,” kata Ferli (28), karyawan swasta.

Ya, berjalan di trotoar terkadang justru terasa “salah”. Meski trotoar merupakan jalur khusus bagi pejalan kaki, sering kali pejalan kaki tergusur oleh sepeda motor yang naik ke trotoar.

“Habis jalanan sering macet, akhirnya pakai segala cara supaya bisa jalan. Kalau sudah kepepet ya lewat trotoar, tapi kan lewatnya kalau pas trotoarnya sepi,” kata Ramdani (22), warga Kota Bandung yang tinggal di Ujungberung.

Tidak seperti di luar negeri yang justru menghadirkan trotoar sebagai surga bagi pejalan kaki, kebanyakan kota di Indonesia kenyamanan pejalan kaki justru direnggut oleh kepentingan pengguna jalan yang lain.

**

Jaringan jalan tidak ubahnya seperti pembuluh darah pada tubuh manusia. Bagian dari sistem sirkulasi yang berfungsi mengalirkan darah ke seluruh tubuh, ada pembuluh arteri, vena, ada yang tebal, tipis, bahkan ada pula yang halus. Demikian juga jaringan jalan. Ada jalan arteri besar, kolektor, sampai jalan lokal. “Mulai dari jalan untuk kendaran sangat besar, angkutan massal, hingga pejalan kaki. Trotoar itu khusus untuk memfasilitasi pejalan kaki,” kata pakar transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Kusbiantoro.

Tidak semua jalan harus dilengkapi dengan trotoar memang, sebab ada jalan yang tidak memperbolehkan pejalan kaki melintas. Misalnya saja jalan tol. Jika jalan itu diperuntukkan juga bagi pejalan kaki, maka sebenarnya trotoar wajib disediakan. Sayangnya, kebutuhan pejalan kaki sering kali terabaikan.

Menjadi pejalan kaki di Kota Bandung termasuk tidak beruntung. Meski sebenarnya cuaca Kota Bandung cocok untuk berjalan kaki, fasilitasnya masih minim.

“Tidak saja jumlahnya yang kurang, kualitasnya pun tidak bagus. Bukan hanya trotoar, fasilitas pejalan kaki lainnya seperti jembatan penyeberangan juga kurang layak, tidak manusiawi,” katanya.

Tidak semua jalan di Kota Bandung sudah dilengkapi trotoar. Menurut Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung Rusjaf Adimenggala, tak semua jalan di Kota Bandung memerlukan trotoar. Pembuatan trotoar baru diprioritaskan di pusat bisnis dan perdagangan, perkantoran, dan sekolah. Selain itu juga di tempat yang aktivitas pejalan kakinya sangat padat.

Dari segi kualitas, trotoar di Kota Bandung pada umumnya justru menyulitkan pejalan kaki. Trotoar selalu dibuat lebih tinggi dari jalan, sebenarnya bertujuan untuk melindungi pejalan kaki agar tidak bercampur dengan arus kendaraan. Tetapi kedudukannya yang lebih tinggi itu justru menyulitkan pejalan kaki karena harus naik turun. Sebabnya, pada perpotongan trotoar dengan pintu pertokoan atau perkantoran, trotoar menjadi terputus. Padahal jarak antar bangunannya rapat.

“Trotoar yang seperti itu akan capek sekali. Kalau jaraknya panjang oke, tapi kalau baru beberapa meter sudah terputus itu akan capek sekali. Itu susahnya kalau yang mendesain trotoar itu jarang jalan,” tutur Kusbiantoro.

Soal desain trotoar rupanya menjadi kendala yang dihadapi pemerintah. Pembuatan trotoar saat ini belum bisa menyiasati kondisi di sekitarnya, misalnya aktivitas bongkar muat barang, pedagang kaki lima, banyaknya tiang-tiang (telefon dan listrik), tiang reklame, sampai keperluan untuk penghijauan. Kendala-kendala tersebut, menurut Rusjaf, mengakibatkan trotoar tidak bisa berfungsi maksimal.

Sebenarnya soal desain bisa diakali. Menurut Ridwan Kamil, arsitek dari Urbane Indonesia, banyak desain trotoar yang sudah berkembang dan bisa dicontoh. “Soal kreativitas, Bandung sudah punya. Tinggal kemauan saja,” katanya.

Desain pula yang bisa menjaga fungsi trotoar sehingga pengendara motor tidak bisa dengan mudah naik ke trotoar, pedagang pun tidak seenaknya menggelar dagangannya.

Jika mengacu pada Keputusan Menteri (KM) Perhubungan No. 65 Tahun 1993, lebar trotoar pada jalan di daerah perkotaan atau kaki lima adalah empat meter. Sementara itu, di wilayah perkantoran utama, lebar trotoarnya tiga meter. Untuk daerah industri pada jalan primer, lebarnya tiga meter sedangkan jalan akses dua meter.

Di sana juga disebutkan, apabila jumlah pejalan kaki yang melalui suatu jalan tinggi, maka trotoarnya lebih lebar. Bila pejalan kaki per detik per meter sebanyak enam orang, maka lebar trotoarnya 2,3-5 meter, sedangkan jika pejalan kaki per detik per meter sebanyak tiga orang, maka lebar trotoarnya 1,5-2,3 meter.

**

Kusbiantoro berpendapat, mengembalikan fungsi trotoar tidak cukup dengan melebarkan trotoarnya. Persoalan trotoar harus dilihat dalam konteks yang lebih luas.

“Mengapa PKL menempati trotoar? Ya mungkin karena mereka tidak disediakan ruang. Kalaupun ada , aksesnya tidak ada sehingga orang tidak mau ke sana. PKL harus kemana? Itu yang harus dipikirkan juga,” katanya.

Demikian pula dengan sepeda motor yang naik ke trotoar. “Banyak pengendara sepeda motor yang inginnya cepat. Mereka tidak diberikan alternatif angkutan umum yang memadai, yang enak, yang mudah diakses dan sebagainya. Ya akhirnya naik sepeda motor. Satu orang memilih sepeda motor karena ingin cepat, satu orang lagi naik motor karena ingin cepat, kalau sejuta orang ingin cepat maka akan rusak,” tutur Kusbiantoro.

Catatan pentingnya, jalan merupakan fasilitas umum yang dipakai oleh banyak orang, tidak hanya pengendara mobil dan sepeda motor tetapi juga pejalan kaki. Maka tugas pemerintah adalah memberikan alternatif yang membuat semua pengguna jalan merasa aman dan nyaman beraktivitas di jalan.

Aktivitas di jalan juga tergantung dengan kegiatan di sekitar jalan itu. Misalnya saja, area pusat perbelanjaan dan pertokoan, jumlah pengguna jalan relatif tinggi, tidak hanya kendaraan bermotor tetapi juga pejalan kaki. Pemerintah harus bisa membaca kebutuhan di area tersebut. Tempat parkir yang luas, kapasitas jalan yang memadai, trotoar yang cukup.

Ridwan Kamil menambahkan, ketersediaan trotoar sekaligus menyediakan ruang terbuka bagi warganya. “Ruang terbuka yang paling besar itu dari jalan, tidak saja dari alun-alun atau taman,” katanya.

Kota yang berpihak pada pejalan kaki, mampu membentuk warganya menjadi pribadi yang ramah, santai, dan rileks. Sebab mereka sering bertegur sapa saat bertemu di jalan. Maka trotoar tidak boleh dipahami sebagai pelengkap semata. (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***

Tags: , ,

This entry was posted on Sunday, November 15th, 2009 at 1:37 pm and is filed under Media Clipings. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply